JAKARTA – Industri sarang burung walet (SBW) Indonesia memasuki babak baru industrialisasi seiring dengan kehadiran dua pemain utama di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Esta Indonesia Tbk (NEST) dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) pada 6 Februari 2026. Kedua perusahaan ini menjadi representasi dominasi Indonesia yang menyuplai lebih dari 75% kebutuhan SBW dunia, dengan fokus utama ekspansi pada pasar Tiongkok, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Detail Profil Perusahaan
- PT Esta Indonesia Tbk (NEST):Berdiri sejak tahun 2000, NEST dikenal sebagai pemain konservatif dengan profil risiko rendah karena tidak memiliki utang berbunga. Perusahaan ini memiliki 9 rumah burung walet sendiri dan mengoperasikan pabrik pengolahan di Semarang. Salah satu kekuatan utamanya adalah kepemilikan saham di Xiamen Yan Palace Bird’s Nest Industry, perusahaan distribusi SBW terkemuka di Tiongkok.
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO):Sebagai pendatang baru yang melantai pada Desember 2025, RLCO menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif. Perusahaan ini mengalokasikan 56,33% dana IPO untuk pembelian bahan baku guna mendukung produksi produk hilirisasi melalui anak usahanya, PT Realfood Winta Asia. RLCO menargetkan perolehan laba bersih sebesar Rp40 miliar pada tahun buku 2026.
Kutipan Resmi
Analis Senior dari Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi, dalam riset terbarunya menyatakan:
“Sektor SBW di pasar modal kini menawarkan dua opsi strategi: NEST bagi investor yang mencari stabilitas dividen dan struktur modal sehat, atau RLCO bagi mereka yang mengejar pertumbuhan eksponensial dari sisi hilirisasi produk konsumsi.”
Data Perbandingan Emiten (Per Februari 2026)
| Aspek | PT Esta Indonesia Tbk (NEST) | PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) |
| Status Utang | Tanpa Utang Berbunga | DER 2,77x (Agresif) |
| Fokus Utama | Budidaya & Perdagangan Besar | Hilirisasi & Produk Konsumsi |
| Target Laba 2026 | Pertumbuhan Stabil | Rp40 Miliar |
| Kapasitas Pasar | Domestik & Afiliasi Tiongkok | Global (AS, Tiongkok, Vietnam) |
Penutup
Kehadiran perusahaan-perusahaan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia melalui proses hilirisasi yang sesuai standar internasional (HACCP dan FDA). Bagi investor, volatilitas tinggi pada saham-saham sektor ini menuntut kecermatan dalam memantau kebijakan kuota ekspor dari General Administration of Customs of China (GACC) yang tetap menjadi penentu utama margin keuntungan industri.




Tinggalkan Balasan