Dahulu, bisnis sarang burung walet (SBW) dijuluki sebagai investasi “cetak uang” yang tak pernah mati. Harganya yang selangit hingga puluhan juta rupiah per kilogram membuatnya disebut sebagai emas putih. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para petani walet mulai merasakan keresahan yang sama: harga yang terus merosot.
Dari puncaknya di era sebelum pandemi hingga memasuki tahun 2026, tren harga cenderung mengalami tekanan hebat. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di balik layar industri ini?
Tren Penurunan: Fakta di Lapangan
Jika ditarik garis waktu, penurunan harga ini terjadi secara bertahap namun signifikan. Sebagai gambaran, sarang kualitas Grade A (mangkok) yang dulu sempat menyentuh angka Rp12 juta – Rp15 juta per kilogram, kini di beberapa daerah bahkan menyentuh angka Rp7 juta – Rp9 juta, bahkan ada yang lebih rendah untuk kualitas di bawahnya.
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari berbagai faktor global dan domestik yang saling mengunci.
Biang Kerok Penurunan Harga Sarang Walet
1. Dominasi Pasar Tunggal (Tiongkok)
Indonesia adalah produsen sarang walet terbesar di dunia, namun hampir 70% ekspor kita bergantung pada satu negara: Tiongkok. Ketika Tiongkok memperketat regulasi—seperti batasan kadar nitrit atau kandungan aluminium—ekspor kita seringkali terhambat. Ketergantungan ini membuat posisi tawar petani lemah; jika Tiongkok “batuk”, pasar Indonesia langsung “demam”.
2. Standar Protokol Ekspor yang Ketat
Pemerintah Tiongkok menerapkan aturan ketat melalui GACC (General Administration of Customs of China). Hanya perusahaan dengan sertifikasi NKV dan SPM tertentu yang bisa ekspor langsung. Akibatnya, banyak sarang walet yang harus melalui jalur pihak ketiga (seperti Vietnam atau Hongkong), yang tentu saja memangkas harga di tingkat petani.
3. Over-Supply di Pasar Lokal
Pertumbuhan gedung walet baru sangat masif dalam 5 tahun terakhir. Banyak orang berbondong-bondong membangun RBW tanpa mempertimbangkan penyerapan pasar. Saat produksi melimpah namun jalur ekspor resmi terbatas, hukum pasar berlaku: stok banyak, harga jatuh.
4. Isu Kualitas dan Manipulasi
Beberapa praktik curang seperti penggunaan pemutih kimia atau penambahan berat (pemalsuan) oleh oknum tertentu telah merusak citra sarang walet Indonesia di mata internasional. Hal ini memicu pengetatan inspeksi yang berujung pada penurunan harga beli dari eksportir ke petani.
Tabel Perbandingan Estimasi Harga (Rata-rata)
| Tahun | Kualitas Mangkok (Per Kg) | Kualitas Patahan/Sudut (Per Kg) |
| 2021 | Rp12.000.000 – Rp14.000.000 | Rp8.000.000 – Rp9.000.000 |
| 2023 | Rp10.000.000 – Rp12.000.000 | Rp6.500.000 – Rp7.500.000 |
| 2025 | Rp8.000.000 – Rp10.000.000 | Rp5.000.000 – Rp6.000.000 |
| 2026 (Januari) | Rp7.500.000 – Rp9.500.000 | Rp4.500.000 – Rp5.500.000 |
Bagaimana Petani Harus Bersikap?
Menghadapi situasi ini, mengeluh bukanlah solusi. Para praktisi walet menyarankan beberapa langkah strategis:
- Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas: Sarang putih alami tanpa banyak bulu tetap memiliki harga premium. Pastikan kebersihan gedung terjaga.
- Hilirisasi Mandiri: Mulailah mengolah sarang menjadi produk siap konsumsi (minuman atau suplemen) untuk pasar lokal guna mengurangi ketergantungan pada tengkulak ekspor.
- Efisiensi Operasional: Gunakan teknologi seperti timer otomatis atau SP/SI yang sudah teruji (seperti SP King Birahi) agar populasi berkembang cepat dengan biaya perawatan yang minimal.
Kesimpulan
Penurunan harga sarang walet memang nyata, namun komoditas ini tetap menjadi aset berharga karena permintaannya yang tidak pernah hilang secara global. Kuncinya terletak pada adaptasi terhadap standar kualitas dan diversifikasi pasar.








Tinggalkan Balasan