JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Karantina Indonesia secara resmi mengumumkan perluasan akses pasar ekspor sarang burung walet (SBW) ke wilayah Uni Eropa mulai 21 Januari 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diversifikasi pasar selain Tiongkok, guna mengantisipasi fluktuasi harga global dan meningkatkan devisa negara dari sektor komoditas non-migas unggulan.
Detail Perluasan Pasar
Ekspor perdana ke Uni Eropa ini melibatkan 15 perusahaan pengolahan SBW yang telah memenuhi standar keamanan pangan internasional dan mendapatkan sertifikasi khusus. Selama ini, lebih dari 80% produksi SBW Indonesia diserap oleh pasar Tiongkok. Dengan dibukanya pasar Eropa, diharapkan terjadi peningkatan permintaan yang signifikan terhadap sarang walet kualitas premium, yang pada gilirannya akan mendongkrak harga di tingkat peternak lokal.
Kutipan Resmi
Menteri Perdagangan RI menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil negosiasi panjang terkait standar teknis dan higienitas produk.
“Pembukaan pasar Uni Eropa adalah bukti bahwa kualitas sarang burung walet Indonesia memenuhi standar tertinggi di dunia. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi peternak agar standar produksi tetap terjaga,” tegas beliau dalam konferensi pers di Jakarta.
| Indikator Ekonomi | Nilai/Data |
| Harga Sarang Mangkok (Super) | Rp16.000.000 – Rp18.000.000 per kg |
| Harga Sarang Sudut | Rp10.000.000 – Rp12.000.000 per kg |
| Volume Ekspor Nasional | 1.200 ton (Target 2026) |
| Kontribusi Devisa Negara | Rp45 Triliun (Estimasi) |
Berikut adalah laporan berita terkini mengenai industri sarang burung walet per hari ini, 21 Januari 2026.
Indonesia Perluas Akses Pasar Ekspor Sarang Burung Walet ke Uni Eropa
JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Karantina Indonesia secara resmi mengumumkan perluasan akses pasar ekspor sarang burung walet (SBW) ke wilayah Uni Eropa mulai 21 Januari 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya diversifikasi pasar selain Tiongkok, guna mengantisipasi fluktuasi harga global dan meningkatkan devisa negara dari sektor komoditas non-migas unggulan.
Detail Perluasan Pasar
Ekspor perdana ke Uni Eropa ini melibatkan 15 perusahaan pengolahan SBW yang telah memenuhi standar keamanan pangan internasional dan mendapatkan sertifikasi khusus. Selama ini, lebih dari 80% produksi SBW Indonesia diserap oleh pasar Tiongkok. Dengan dibukanya pasar Eropa, diharapkan terjadi peningkatan permintaan yang signifikan terhadap sarang walet kualitas premium, yang pada gilirannya akan mendongkrak harga di tingkat peternak lokal.
Kutipan Resmi
Menteri Perdagangan RI menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil negosiasi panjang terkait standar teknis dan higienitas produk.
“Pembukaan pasar Uni Eropa adalah bukti bahwa kualitas sarang burung walet Indonesia memenuhi standar tertinggi di dunia. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi peternak agar standar produksi tetap terjaga,” tegas beliau dalam konferensi pers di Jakarta.
Data dan Statistik Terkini
Berikut adalah ringkasan data industri sarang burung walet per Januari 2026:
| Indikator Ekonomi | Nilai/Data |
| Harga Sarang Mangkok (Super) | Rp16.000.000 – Rp18.000.000 per kg |
| Harga Sarang Sudut | Rp10.000.000 – Rp12.000.000 per kg |
| Volume Ekspor Nasional | 1.200 ton (Target 2026) |
| Kontribusi Devisa Negara | Rp45 Triliun (Estimasi) |
Penutup
Meskipun pasar global semakin terbuka, tantangan utama yang dihadapi peternak saat ini adalah perubahan iklim yang mempengaruhi ketersediaan pakan alami burung walet. Pemerintah mengimbau para pemilik gedung walet untuk mulai menerapkan teknologi pengelolaan suhu ruang yang lebih modern demi menjaga produktivitas dan kualitas sarang tetap stabil di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.








Tinggalkan Balasan