SEMARANG – Seiring dengan lonjakan minat investasi pada sektor “emas putih”, pemahaman teknis mengenai ekosistem produksi menjadi krusial, terbukti dengan meningkatnya pencarian informasi mengenai pola konsumsi atau “burung walet makan apa” sebesar 100% di awal tahun 2026. Ketersediaan pakan yang melimpah dan berkualitas di sekitar Rumah Burung Walet (RBW) terbukti secara klinis dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas air liur yang dihasilkan untuk pembentukan sarang.

Detail Jenis Pakan dan Ekosistem

Burung walet (Collocalia vestita) merupakan hewan insektivora atau pemakan serangga kecil yang aktif mencari makan di udara (aerial insectivore). Serangga yang menjadi konsumsi utama mereka adalah jenis serangga bersayap kecil dengan eksoskeleton yang lunak, yang umumnya ditemukan di area persawahan, rawa, dan hutan sekunder. Pakan yang berkualitas tidak hanya menjaga stamina burung, tetapi juga memastikan tekstur sarang tetap tebal dan putih bersih.

Kutipan Pakar Budidaya

Seorang praktisi budidaya walet dari Asosiasi Pengusaha Sarang Burung Walet Indonesia (APSBWI) menjelaskan:

“Banyak peternak pemula mengabaikan vegetasi di sekitar gedung. Padahal, nutrisi dari serangga alami seperti kutu daun dan lalat buah sangat memengaruhi kadar glikoprotein pada liur walet. Tanpa pakan yang cukup, burung akan bermigrasi mencari lokasi yang lebih subur, yang mengakibatkan gedung menjadi kosong.”

Data Jenis Serangga Konsumsi Utama

Berikut adalah daftar jenis serangga yang menjadi pakan utama burung walet untuk menghasilkan sarang kualitas premium:

Jenis SeranggaPersentase dalam DietHabitat Asal
Kutu Daun (Aphids)40%Area Pertanian/Hutan
Lalat Buah (Drosophila)30%Perkebunan Buah
Laron/Rayap Bersayap15%Lahan Lembap (Musiman)
Kumbang Kecil & Semut Bersayap15%Semak Belukar

Penutup

Untuk menjaga kesinambungan produksi pada tahun 2026, para pembudidaya kini mulai menerapkan teknologi “pancingan pakan” atau pembuatan pakan buatan di dalam gedung menggunakan media fermentasi guna menjaga ketersediaan makanan di musim kemarau. Langkah ini penting dilakukan agar populasi walet tetap stabil dan kualitas sarang memenuhi standar ekspor internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posting terkait