JAKARTA – Industri sarang burung walet di Indonesia kembali menunjukkan geliat positif seiring dengan kenaikan harga di tingkat petani dan dorongan pemerintah untuk mempercepat sertifikasi ekspor. Per 14 Juni 2024, harga sarang burung walet di beberapa sentra produksi tercatat mengalami peningkatan sekitar 5-10% dibandingkan bulan sebelumnya, khususnya untuk kualitas super.

Kenaikan Harga Beri Angin Segar Petani

Kenaikan harga ini disambut gembira oleh para petani walet. Di Kalimantan Barat, salah satu provinsi penghasil sarang walet terbesar, harga sarang bersih kualitas standar kini berkisar antara Rp9 juta hingga Rp11 juta per kilogram. Sementara itu, untuk kualitas super atau mangkok bisa menembus Rp13 juta hingga Rp15 juta per kilogram di tingkat pengepul besar.

Menurut Bapak Sutrisno, seorang petani walet dari Pontianak, kenaikan harga ini sangat membantu menutupi biaya operasional yang sempat meningkat. “Alhamdulillah, harga sekarang lumayan bagus. Modal pakan dan perawatan gedung bisa tertutupi,” ujarnya.

Percepatan Sertifikasi untuk Pasar Global

Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian dan Badan Karantina Indonesia (Barantin), terus menggenjot program percepatan sertifikasi good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP) bagi rumah walet dan eksportir. Hal ini penting untuk memenuhi standar ketat negara importir utama seperti Tiongkok, yang merupakan pasar terbesar sarang burung walet Indonesia.

Kepala Barantin, Bapak Bambang, dalam keterangannya menekankan pentingnya kualitas dan standar keamanan pangan.

“Kami terus mendampingi para pelaku usaha sarang burung walet agar produk kita memenuhi standar internasional. Dengan sertifikasi yang lengkap, akses pasar global akan semakin terbuka lebar dan nilai jual produk kita pun meningkat,” jelas Bapak Bambang.

Potensi Ekspor Terus Meningkat

Data terakhir menunjukkan bahwa volume ekspor sarang burung walet Indonesia pada kuartal pertama 2024 mengalami peningkatan signifikan, mencapai lebih dari 250 ton dengan nilai transaksi miliaran rupiah. Selain Tiongkok, pasar tujuan ekspor lainnya yang sedang dijajaki adalah Vietnam, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

Para pelaku industri berharap momentum positif ini dapat terus dijaga melalui sinergi antara pemerintah, petani, dan eksportir untuk mempertahankan Indonesia sebagai produsen sarang burung walet terbesar dan berkualitas di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posting terkait