JAKARTA – Fenomena investasi pada industri sarang burung walet mencapai puncaknya setelah emiten pendatang baru, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), mencatatkan kenaikan harga saham yang fenomenal hingga lebih dari 5.000% sejak melantai di bursa pada Desember 2025. Meskipun sempat mengalami suspensi akibat pergerakan harga yang liar, minat publik terhadap “emas putih” ini tetap tinggi, tercermin dari lonjakan pencarian kata kunci “saham burung walet” sebesar 250% di platform Google Trends pada awal Februari 2026.

Detail Pergerakan Saham dan Pasar

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember 2025 dengan harga perdana Rp168 per saham. Dalam waktu singkat, saham ini menyentuh level Rp8.700 setelah mengalami Auto Reject Atas (ARA) sebanyak 20 kali berturut-turut. Namun, pada akhir Januari hingga awal Februari 2026, saham ini mulai menunjukkan volatilitas tinggi dengan mengalami Auto Reject Bawah (ARB) sebesar 9,77% segera setelah suspensi perdagangan dibuka kembali oleh otoritas bursa.

Selain RLCO, emiten lain yang memperkuat sektor ini adalah PT Esta Indonesia Tbk (NEST), yang telah lebih dulu melantai pada Agustus 2024. Fokus utama para emiten ini adalah ekspansi pasar ekspor ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Asia Tenggara, guna menangkap peluang laba yang diproyeksikan mencapai puluhan miliar rupiah pada tahun 2026.

Kutipan Resmi

Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, dalam keterangan resminya menyatakan:

“IPO ini merupakan tonggak sejarah bagi industri pengolahan sarang burung walet di Indonesia. Fokus kami pada tahun 2026 adalah memperkuat rantai pasok dan memperluas distribusi produk olahan bernilai tambah ke pasar internasional, termasuk Thailand dan Amerika Serikat”.

Data Tren dan Proyeksi Ekonomi 2026

Berikut adalah ringkasan data terkini terkait industri sarang burung walet di pasar modal:

Indikator EkonomiNilai / StatusKeterangan
Harga IPO RLCORp168Harga perdana (Desember 2025)
Lonjakan Harga Tertinggi> 5.000%Sejak listing hingga Januari 2026
Target Laba Emiten 2026Rp40 MiliarProyeksi pertumbuhan laba bersih
Dana Segar IPORp105 MiliarDigunakan untuk ekspansi & modal kerja
Tanggal Data6 Februari 2026Update pasar terbaru

Penutup

Meskipun sektor ini menawarkan potensi keuntungan yang sangat besar, para analis dari Samuel Sekuritas dan otoritas bursa mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap risiko “goreng saham” dan volatilitas ekstrem. Keberhasilan transformasi dari komoditas tradisional menjadi pemain industri global tetap bergantung pada kemampuan emiten dalam memenuhi standar sertifikasi internasional seperti FDA dan GMP pada tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Posting terkait